Bukan Kaleng-kaleng! Bos MGPA dkk Ujian ‘Super Licence’ di Prancis: Bukti SDM Indonesia Kuasai Kendali MotoGP

  • Bagikan
Bukan Kaleng-kaleng! Bos MGPA dkk Ujian 'Super Licence' di Prancis: Bukti SDM Indonesia Kuasai Kendali MotoGP
Bukan Kaleng-kaleng! Bos MGPA dkk Ujian 'Super Licence' di Prancis: Bukti SDM Indonesia Kuasai Kendali MotoGP

LYON, PRANCIS – RadarNTB.com – Pada 5–8 Februari 2026, empat pilar MGPA terbang ke Lyon, Prancis, memenuhi undangan resmi Federasi Internasional Sepeda Motor (FIM). Mereka adalah Priandhi Satria (Dirut MGPA), Eddy Saputra, Donny Mahardjono, dan Muhammad Awallutfi Andhika Putra.

Indonesia kini tak lagi sekadar menjadi “tuan rumah” yang menonton. Melalui Mandalika Grand Prix Association (MGPA), putra-putra terbaik bangsa kini resmi duduk di lingkaran elite pengambil keputusan balap motor dunia.

Bukan untuk jalan-jalan, mereka hadir di forum tertinggi FIM Commission of Circuit Racing (CCR) Superlicence Seminar Meeting untuk mengikuti ujian berat demi memperpanjang kasta tertinggi lisensi balap dunia: FIM Superlicence.

Mungkin banyak yang belum tahu, untuk memimpin balapan sekelas MotoGP dan WorldSBK, tidak cukup hanya bermodal peluit dan bendera. Dibutuhkan FIM Superlicence, sebuah sertifikasi kompetensi paling bergengsi di dunia motorsport.

Tanpa lisensi ini, seseorang tidak sah menjabat sebagai Clerk of the Course (CoC) atau pimpinan perlombaan di ajang dunia. Di Indonesia, baru ada 4 orang yang memegang kasta tertinggi ini, dan semuanya adalah tim dari MGPA.

“Undangan ini menunjukkan bahwa Mandalika dan Indonesia sudah berada di dalam lingkaran diskusi strategis motorsport dunia. Kita bukan lagi cuma penyelenggara, tapi bagian dari sistem penentu standar balap internasional,” tegas Direktur Utama MGPA, Priandhi Satria, langsung dari Lyon.

Muhammad Awallutfi Andhika Putra (Track & Motorsport Manager MGPA) menceritakan ketatnya ujian di Prancis. Meski berbasis studi kasus tertulis, waktu yang diberikan sangat singkat.

“Kita harus menyelesaikan kasus secepat kondisi di lapangan. Ini menguji ketepatan dan kecepatan pengambilan keputusan. Salah sedikit, nyawa pembalap dan kelancaran balapan taruhannya,” jelas pria yang akrab disapa Dhika ini.

Di Lyon, tim MGPA duduk satu meja dengan tokoh-tokoh besar seperti Mike Webb (Race Director MotoGP) dan Simon Crafar (FIM MotoGP Steward) untuk membahas pembaruan regulasi dan keselamatan lintasan.

Kabar terbaiknya adalah: Indonesia kini mandiri secara SDM. Jika dulu di awal-awal MotoGP Mandalika kita masih bergantung pada ofisial asing, kini perangkat kontrol perlombaan sudah 100 persen orang Indonesia, bahkan banyak yang merupakan putra daerah NTB.

“Untuk musim 2026 dan 2027, perangkat kontrol kita sudah aman. Semuanya sudah dari Indonesia,” tambah Dhika dengan bangga.

Selain ujian, momen di Prancis ini dimanfaatkan MGPA untuk mempromosikan kalender event Mandalika 2026 kepada delegasi internasional. Priandhi Satria menegaskan bahwa ilmu yang didapat dari Lyon akan langsung diterapkan di balapan lokal seperti Mandalika Racing Series (MRS).

“Target kami jelas, Sirkuit Mandalika harus berkelanjutan. Standar balap lokal kita buat semirip mungkin dengan standar FIM. Ini soal masa depan motorsport Indonesia,” tutup Priandhi.

Dengan hasil ujian di Lyon ini, bendera Merah Putih kini makin berkibar tegak di jajaran pengambil kebijakan balap motor dunia.


Penulis: [MGPA] Editor: [M2]

  • Bagikan
Exit mobile version