Dispora NTB dan Pelatih PON XX Berdamai

  • Bagikan

Dispora NTB dan Pelatih PON XX Yang Ngamuk Saat Pembagian Bonus di Kantor Gubernur NTB Akhirnya Berdamai, Kaban Kesbangpoldagri NTB dan tim selaku Mediator berhasil mendamaikan mereka.

MATARAM (RadarNTB) – Kerincuhan yang terjadi antara para pelatih atlit PON XX Papua dengan Dinas Pemuda dan Olahraga Provinsi NTB ( Dispora NTB ) pada hari kamis 28 oktober 2021 kemarin akhirnya berdamai setelah di lakukan proses mediasi kedua belah pihak oleh Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Dalam Negeri (Kanan Kesbangpoldagri) Provinsi NTB Lalu Abdul Wahid, SH, MH dan tim.

Proses mediasi antara pelatih atlit PON XX Papua dengan Dinas Pemuda dan Olahraga Provinsi NTB ( Dispora NTB ) berjalan dua hari di Kantor Kesbangpoldagri Provinsi NTB, yakni hari Kamis 28 dan Jumat 29 Oktober 2021.

Kaban Kesbangpoldagri Provinsi NTB Lalu Abdul Wahid, SH, MH yang memimpin proses mediasi kedua belah pihak menyampaikan bahwa, proses mediasi itu sesuai dengan arahan Gubernur NTB kepada Kesbangpol NTB untuk menyelesaikan permasalahan yang terjadi anatara para pelatih PON XX Papua dengan Dispora NTB.

Adapun mediasi yang dilakukan dengan cara yang humanis dan kedua belah pihak sepakat berdamai serta para pelatih berterimakasih kepada bapak Gubernur atas respon cepat terkait bonus yang akan di terima oleh para pelatih.

Kaban Kesbangpoldagri NTB lmengatakan, hasil mediasi yang dilakukan pihaknya bahawa para pelatih akan menerima bonus dari Pemerintah sebesar 60 juta untuk pelatih yang meraih medali emas dalam cabornya, kemudian 50 juta untuk medali perak, 40 juta untuk medali perunggu.

Adapun pelatih dan atlit yang cabornya tidak mendapatkan medali, masing – masing akan mendapatkan 10 juta rupiah dari pemerintah.

Selain dari pemerintah para pelatih PON XX Papu asal NTB ini akan mendapat bonus juga dari Mori Hanafi selaku ketua Kontingen Pon XX Papua, kabarnya bonus tersebut akan diambilkan dari dana aspirasinya sebagai wakil kedua DPRD NTB.

“Hasil dari mediasinya yaitu, Rp. 60.000.000 untuk pelatih yang meraih medali emas, Rp. 50.000.000 untuk medali perak, Rp. 40.000.000 untuk medali perunggu, serta Rp. 10.000.000 untuk atlit dan pelatih Non medali,” imbuhnya.

Angka tersebut telah disepakati oleh kedua belah pihak, penandatanganan kesepakatan bersama berlangsung di Aula Kantor Kesbangpoldagri Jumat (29/10/2021) dan disaksikan langsung Kaban Kesbangpoldagri NTB dan tim.

Lantas apa penyebab pelatih atlit PON XX Papua tidak dipanggil oleh Dinas Pemuda dan Olahraga Provinsi NTB ( Dispora NTB ) saat pembagian bonus di Kantor Gubernur NTB Kamis (28/10) lalu.

Kasubag Keuangan Dispora NTB Agus Sukmayadi ditemui RadarNTB setelah proses mediasi di Kantor Kesabangpoldagri NTB, Jumat (29/10) menyampaikan bahwa apa yang terjadi kemarin, dikarenakan ada miskomunikasi antara para pelatih dan Dispora NTB terkait masalah bonus yang akan di terima oleh para pelatih.

Tidak dipanggilnya para pelatih saat pembagian Bonus Pon XX di Kantor Gubernur NTB Kamis lalu, karena adminastrasi penerimaan bonus belum semua menyerahkan ke pihak keuangan Dispora NTB.

Dijelaskan, administrasi yang di lakukan harus secara kolektif dan tidak bisa sebagian, dimana pada tanggal 28 oktober 2021 dini hari dari 16 orang pelatih baru 6 orang pelatih yang teridentifikasi.

“dari sisi dokumen keuangan bahwa, semua yang 16 orang itu harus diajukan secara kolektif tidak bisa sebagian,” kelasnya.

Sementara Ketua Pemusatan Latihan Daerah (Pelatda) NTB dan juga sebagai ketua forum pelatih atlit NTB Ir Agus Suharyan menganggap, pemerintah tidak transparan mengenai bonus untuk pelatih, karena pihaknya tidak dipanggil saat pembagian bonus Pon di Kantor Gubernur Kamis lalu.

Tidak satupun pelatih dipanggil saat membuat Agus merasa tidak dihargai sebagai pelatih, sebab dia dan pelatih lainnya hanya bisa menonton atlitnya yang mendapatkan bonus sedangkan mereka sampai akhir acara tidak dipanggil keatas panggung untuk penerimaan bonus.

Peristiwa itu lantas meluawapkan emosi pelatih dan mengamuk di forum usai pembagian bonus.

Diakui Agus, itu merupakan luapan kemarahan dari para pelatih yang merasa tidak dihargai, bisa dibayangkan para atlit dipanggil kemudian pelatih tidak dipanggil, Agus melihat wajah teman – teman pelatih lainnya sedih saat itu.

“kalau saat itu pelatih dipanggil walaupun hanya sekedar simbolis mungkin kami tidak sedih dan meluapkan kemarahan,” pungkasnya.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.