LOMBOK BARAT, radarntb.com – Jeritan warga terkait langka dan mahalnya minyak goreng serta beras direspons cepat oleh Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat. Melalui Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan, Pemprov NTB langsung menerjunkan Gerakan Pangan Murah (GPM) di Desa Taman Ayu, Kecamatan Gerung, Kabupaten Lombok Barat, Jumat (5/6/2026).
Aksi jemput bola ini sengaja membidik wilayah pelosok yang masuk kategori kemiskinan ekstrem serta kawasan yang warganya punya akses terbatas menuju pasar ritel.
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi NTB, Lalu Mirza Amir Hamzah, menegaskan bahwa GPM adalah wujud nyata kehadiran pemerintah saat isi dompet rakyat tercekik harga pokok.
“Ini bentuk kepedulian pemerintah terhadap rakyatnya, termasuk di daerah pelosok. Kita harus berikan pelayanan terbaik, terutama dalam penyediaan bahan pangan murah,” tegas Lalu Mirza.
Dalam operasi pasar kali ini, sebanyak 1.343 keluarga di Desa Taman Ayu langsung tersenyum lega. Mereka menerima bantuan pangan dari Badan Pangan Nasional (Bapanas) RI berupa paket 20 kilogram beras dan 4 liter minyak goreng (untuk alokasi Februari dan Maret).
Bukan rahasia lagi, data Badan Pusat Statistik (BPS) merekam bahwa kelangkaan minyak goreng dan bahan bakar rumah tangga menjadi biang kerok utama yang memicu inflasi di hampir seluruh kabupaten/kota se-NTB.
Melihat ancaman tersebut, Lalu Mirza meminta seluruh pihak tidak tinggal diam dan menyerahkan urusan ini ke dinasnya saja.
“Jangan hanya mengandalkan Dinas Pertanian. Seluruh pihak harus berkolaborasi mengendalikan inflasi agar harga pangan tetap terjangkau. Ke depan, GPM akan konsisten digelar tiap bulan di titik-titik yang harga bapoknya mulai tidak sehat,” jelasnya.
Untuk menggeliatkan ekonomi bawah, pasar murah berkala ini juga selalu menggandeng pelaku UMKM lokal guna menyediakan berbagai kebutuhan alternatif dengan harga miring.
Gebrakan ini pun dihujani apresiasi oleh Kepala Desa Taman Ayu, Muhammad Tajudin. Menurutnya, intervensi harga dari Pemprov NTB ini ibarat oase di tengah paceklik komoditas penting.
“Saat ini yang paling langka dan mahal itu minyak goreng dan beras. Program ini sangat dinanti masyarakat. Kami berharap aksi seperti ini berlanjut sampai kondisi ekonomi warga benar-benar stabil,” pungkas Tajudin.
