Meneguhkan Akar, Mengukir Masa Depan: Mbolo Weki Dou Dompu Satukan Diaspora di Mataram

  • Bagikan
Meneguhkan Akar, Mengukir Masa Depan: Mbolo Weki Dou Dompu Satukan Diaspora di Mataram
Meneguhkan Akar, Mengukir Masa Depan: Mbolo Weki Dou Dompu Satukan Diaspora di Mataram

MATARAM, radarntb.com — Gelombang kebangkitan identitas budaya Dompu kini memasuki babak baru yang lebih progresif. Sebuah forum besar bertajuk Mbolo Weki Dou Dompu bersiap digelar di Kota Mataram.

Pertemuan ini dirancang sebagai momentum konsolidasi akbar warga diaspora Dompu untuk meneguhkan kembali eksistensi, sejarah, dan jati diri Suku Dompu di tengah arus modernitas.

Bukan sekadar seremonial, Mbolo Weki hadir sebagai ruang intelektual dan strategis. Forum ini bertujuan membedah masa depan entitas budaya Dompu dalam konstelasi sosial dan geopolitik kebudayaan di Nusa Tenggara Barat (NTB).

Tema yang diangkat “Meneguhkan Identitas: Menelusuri Jejak Sejarah dan Eksistensi Budaya Suku Dompu”.

Acara ini akan mempertemukan berbagai elemen penting: tokoh adat, budayawan, akademisi, sejarawan, mahasiswa, hingga perwakilan pemerintah daerah dan provinsi.

Kegiatan ini diinisiasi oleh Rukun Keluarga Dompu (RKD) Mataram bekerja sama dengan Yayasan Kesultanan Dompu. Ketua Panitia, Prof. Dr. Ir. H. A. Farid Hemon, MSc, yang juga merupakan Guru Besar Universitas Mataram (UNRAM), menegaskan bahwa forum ini lahir dari kesadaran bahwa Dompu memiliki akar sejarah yang sangat dalam dan tak dapat direduksi.

“Dompu bukan sekadar nama wilayah administratif. Kita bicara tentang entitas yang telah eksis sejak abad ke-12, tercatat dalam Sumpah Palapa Gajah Mada (1336) dan Nagarakretagama (1365). Ini adalah bukti otentik bahwa Dompu adalah entitas yang kuat dan mandiri secara historis,” tegas Prof. Farid.

Prof. Farid menambahkan, identitas Suku Dompu dibangun di atas fondasi bahasa, nilai sosial, dan falsafah hidup yang luhur seperti “Nggahi Rawi Pahu”—sebuah mandat moral bahwa ucapan harus selaras dengan tindakan nyata.

Senada dengan hal tersebut, Sekretaris RKD Mataram, Yeyen Seprian Rachmat, menjelaskan bahwa konsolidasi ini merupakan respon atas aspirasi warga Dompu di perantauan.

“Ini bukan gerakan untuk membangun eksklusivitas atau memisahkan diri. Justru ini adalah bentuk penghormatan terhadap sejarah. Kami ingin memperjelas posisi Dompu dalam mozaik kebudayaan NTB dan Indonesia agar tidak lagi dipandang sebagai bayang-bayang entitas lain,” jelas Yeyen yang juga menjabat Sekretaris Yayasan Kesultanan Dompu.

Semangat ini kian menguat berkat dorongan Bupati Dompu, H. Bambang Firdaus. Dalam berbagai kesempatan, ia terus menyerukan agar masyarakat bangga terhadap bahasa dan jati diri asal. “Dompu hebat, Dompu bisa, dan Dompu maju,” ungkapnya optimis.

Dukungan juga datang dari H. Syaiful Islam, Ketua Yayasan Kesultanan Dompu, yang menilai penegasan identitas secara ilmiah dan sosial sudah sangat mendesak.

Begitu pula dengan tokoh perempuan Dompu, Hj. Hartina (Paca Tari), yang memandang kearifan lokal Dompu sebagai kekayaan budaya nasional yang harus diakui dan dilestarikan.

Selain diskusi sejarah, forum ini diprediksi akan menelurkan butir-butir pemikiran strategis, termasuk: Penguatan literasi sejarah Dompu di tingkat akademik, implementasi kurikulum Muatan Lokal (Mulok) Dompu di sekolah-sekolah dan Reposisi entitas budaya Dompu dalam kebijakan strategis daerah.

Melalui Mbolo Weki Dou Dompu, diaspora Dompu di Mataram mengirimkan pesan kuat ke seluruh penjuru Nusantara: bahwa Dompu adalah identitas yang hidup, berakar, berdaulat, dan siap menjadi fondasi kemajuan di masa depan.

  • Bagikan
Exit mobile version