MATARAM, RadarNTB.com — Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) kembali mengukir prestasi gemilang di panggung nasional. Tak tanggung-tanggung, NTB berhasil menembus peringkat kedua nasional dalam tingkat minat baca, membuktikan bahwa strategi literasi dari pelosok desa hingga ruang digital berjalan sangat efektif.
Capaian membanggakan ini dikonfirmasi oleh Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan NTB, Dr. H. Ashari, SH., MH., yang menyebut skor literasi NTB kini menjadi salah satu yang tertinggi di Indonesia.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) 2026 yang bersumber dari Perpustakaan Nasional, NTB mencatatkan skor minat baca sebesar 61,19 poin. Angka ini menempatkan NTB di posisi runner-up nasional, tepat di bawah NTT (62,05 poin) dan berhasil mengungguli Sumatera Selatan (60,86 poin).
“Ini bukan capaian instan. Hasil dua besar nasional ini adalah bukti kerja kolaboratif antara pemerintah, sekolah, komunitas, hingga keluarga yang konsisten membangun budaya baca,” jelas Ashari, Selasa (17/3/2026).
Keberhasilan NTB tidak lepas dari program-program taktis yang menyentuh langsung akar rumput, di antaranya, program hibah sejuta buku yang telah menyuplai perpustakaan di 840 desa/kelurahan dari total 1.166 desa di NTB.
Berikutnya penguatan literasi berbasis masyarakat melalui advokasi dan kegiatan populer seperti “Kemah Literasi” dan inovasi unik yang mendekatkan buku ke anak-anak melalui permainan tradisional, dongeng, dan budaya lokal.
Tak hanya fokus pada buku fisik, Pemprov NTB juga melakukan lompatan besar di dunia siber. Melalui NTB e-Library, masyarakat kini bisa mengakses ribuan judul e-book secara gratis.
Saat ini, ekosistem digital perpustakaan NTB telah memiliki 12.016 judul koleksi deposit, 964 judul e-book eksklusif dan ktalog daring (online) yang memuat lebih dari 68.000 judul koleksi.
Selain mengejar angka statistik, Pemprov NTB juga serius menjaga warisan intelektual leluhur. Bekerja sama dengan Museum NTB, dilakukan pendataan dan digitalisasi naskah-naskah kuno agar tetap bisa dipelajari oleh generasi mendatang tanpa merusak fisik naskahnya.
Gubernur NTB pun telah memperkuat ekosistem ini melalui Surat Edaran resmi yang mendorong peran aktif Bunda Literasi dan komunitas di seluruh kabupaten/kota.
“Ke depan, literasi harus menjadi gaya hidup sehari-hari masyarakat NTB. Kita ingin literasi ini hidup di tengah masyarakat, bukan sekadar angka di atas kertas,” pungkas Ashari.
