LOMBok UTARA — Di tengah tantangan harga komoditas yang stagnan dan minimnya akses pasar, Kampung Coklat Senara di Desa Genggelang, Lombok Utara, berpeluang sebagai pionir transformasi ekonomi. Perubahan ini didorong oleh penguatan literasi dan sinergi antar-lembaga.
Hal ini mengemuka dalam diskusi kelompok terpumpun (FGD) bertajuk “Penguatan Literasi Inklusif dan Rantai Pasok Komoditas Kakao” yang diselenggarakan oleh Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusarsip) Lombok Utara, bersama Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) dan Bhayangkari Cabang Lombok Utara pada Senin (2/6/2025).
Ketua Bhayangkari Cabang Lombok Utara, Ny. Heny Agus Purwanta, sebagai narasumber utama, menyoroti potensi besar namun belum optimal di Kampung Senara.
“Sekitar 90 petani di Kampung Senara mengelola lebih dari 100 hektare lahan kakao. Namun, lebih dari 90 persen produksinya masih dijual dalam bentuk buah mentah. Hanya 3-4 persen yang diolah menjadi produk siap konsumsi,” tegas Heny.
Ia melihat ini sebagai tantangan sekaligus peluang besar. Heny menekankan bahwa penguatan literasi inklusif harus fokus pada peningkatan kapasitas petani, tidak hanya dalam produksi tetapi juga pengolahan, pengemasan, perizinan, hingga strategi pemasaran.
“Kami melihat langsung kualitas produk olahan dari Senara. Rasanya sudah kompetitif, tapi kemasan dan legalitasnya masih tertinggal. Banyak produk belum bersertifikasi BPOM, berlabel halal, memiliki tanggal kedaluwarsa, atau SNI,” jelasnya.
Bhayangkari, kata Heny, siap menjadi motor promosi produk lokal. Ia berkomitmen membawa salah satu produk olahan coklat Kampung Senara ke Bazar Nusantara Bhayangkari se-Indonesia pada 23 Juli mendatang.
“Kami tidak hanya hadir sebagai mitra sosial, tetapi juga menjadi jembatan pemasaran. Ini strategi Bhayangkari untuk mengangkat UMKM berbasis desa ke tingkat nasional,” imbuhnya.
Kepala Dispusarsip Lombok Utara, Ir. Mochammad Wahyu Dharmawan, menjelaskan bahwa literasi yang mereka usung adalah literasi implementatif, yang berdampak langsung pada peningkatan kualitas hidup masyarakat.
“Perpustakaan bukan hanya tempat buku. Ia harus menjadi pusat pemberdayaan desa. Di Kampung Senara, kami menjadikan literasi sebagai pintu masuk untuk mengadvokasi perubahan: dari petani menjadi produsen, dari penghasil bahan mentah menjadi pelaku ekonomi kreatif,” papar Wahyu.
Program literasi berbasis inklusi sosial yang dikembangkan Dispusarsip kini difokuskan pada desa-desa dengan potensi ekonomi dan wisata.
“Kampung Senara menjadi contoh. Ke depan, program ini akan kami replikasi ke desa-desa strategis lain. Literasi adalah kendaraan untuk transformasi sosial dan ekonomi,” ujarnya.
Wahyu juga menggarisbawahi pentingnya kolaborasi multisektor dalam memperkuat ekosistem usaha petani coklat.
“Kami telah menggandeng Disperindag untuk memperkuat perizinan dan pemasaran, dan akan memperluas kerja sama dengan Dinas Pertanian dan Dinas Pariwisata. Transformasi tidak bisa berjalan sektoral. Ia butuh orkestrasi lintas institusi,” pungkasnya.
