MATARAM, RadarNTB.com – Menjelang perhelatan balap internasional GT World Challenge Asia yang akan berlangsung 1-3 May 2026 di Sirkuit Mandalika, koordinasi antara pihak pengelola sirkuit dan pemerintah daerah semakin intensif. Fokus utama tidak hanya tertuju pada teknis dan kelancaran balapan di lintasan, tetapi juga pada dampak ekonomi berkelanjutan bagi masyarakat Nusa Tenggara Barat (NTB).
Dalam sesi konferensi pers yang berlangsung di Mataram, Selasa (28/4/2026), pihak Mandalika Grand Prix Association (MGPA) dan Dinas Pariwisata (Dispar) NTB memaparkan kesiapan lintas sektor, mulai dari teknis sirkuit hingga dampak ekonomi bagi masyarakat.
Pihak Mandalika Grand Prix Association (MGPA) memastikan bahwa persiapan dari sisi teknis dan logistik berjalan sesuai jadwal. Hal ini krusial untuk memenuhi standar ketat federasi balap internasional.
Menjawab pertanyaan mengenai keterlibatan masyarakat, MGPA menegaskan komitmennya untuk memaksimalkan penggunaan Sumber Daya Manusia (SDM) lokal. Tenaga kerja lokal akan dilibatkan dalam berbagai aspek, mulai dari teknis lapangan, marshal, hingga manajemen event.
“Kesiapan logistik menjadi prioritas untuk memastikan seluruh peralatan tim sampai tepat waktu. Selain itu, kami terus memberdayakan SDM lokal sebagai bentuk tanggung jawab sosial dan peningkatan kapasitas masyarakat sekitar sirkuit,” jelas perwakilan MGPA.
Terkait partisipasi, MGPA menargetkan jumlah pembalap internasional yang kompetitif untuk memastikan kualitas tontonan yang mendunia.
Sementara itu, Dinas Pariwisata NTB optimis ajang ini akan menjadi magnet kuat bagi wisatawan domestik maupun mancanegara.
Target kunjungan wisatawan diprediksi akan mengalami kenaikan signifikan dibanding tahun sebelumnya.
Sekretaris Dinas Pariwisata NTB Muhammad Erwan memaparkan bahwa dampak langsung yang paling dinanti adalah pada angka okupansi hotel dan geliat sektor UMKM.
Terkait Okupansi, Dispar memantau kesiapan kamar di kawasan Mandalika hingga daerah penyangga seperti Mataram dan Senggigi agar tetap optimal.
Sementara terkait UMKM, pelaku usaha lokal akan diberikan ruang untuk menjajakan produk unggulan mereka selama event berlangsung.
Tidak hanya soal balapan, ajang ini juga dimanfaatkan sebagai panggung promosi budaya. Berbagai atraksi kesenian khas NTB akan ditampilkan untuk menyambut para tamu, memperkuat posisi NTB sebagai destinasi wisata berbasis budaya.
Dinas Pariwisata NTB juga telah menyiapkan strategi pasca-event agar dampak ekonomi tidak berhenti saat bendera finish dikibarkan.
Strategi ini mencakup pengelolaan citra destinasi secara berkelanjutan dan pemeliharaan fasilitas agar tetap menarik dikunjungi wisatawan meski tidak ada balapan besar.
“Kami ingin memastikan bahwa dampak ekonomi dari sirkuit ini memiliki multiplier effect. Setelah event selesai, promosi tetap berjalan agar wisatawan terus berdatangan ke desa-desa wisata di sekitar Mandalika,” pungkas Sekdis Pariwisata NTB.
