MATARAM, radarntb.com — Memperingati hari jadi Komunitas Sepeda Tua Indonesia (KOSTI) yang ke-18, KOSTI Kota Mataram menunjukkan sisi humanisnya. Mengusung filosofi “Setetes Keringat untuk Pedal, Setetes Darah untuk Nyawa”, para penggiat sepeda tua ini menggelar aksi donor darah di Lingkungan Griya Pagutan Indah (GPI) Mataram, Minggu (8/2/2026).
Kegiatan bertajuk “Pedal Peduli, Donor Darah Untuk Negeri” ini bekerja sama dengan Unit Donor Darah (UDD) PMI Lombok Barat. Selain sebagai ajang silaturahmi, acara ini menjadi bukti nyata kontribusi sosial komunitas onthel terhadap masyarakat.
Acara dimulai dengan prosesi potong tumpeng yang khidmat sebagai simbol rasa syukur. Hadir dalam kegiatan tersebut Ketua KOSTI NTB Agus Cahyono, S.H., M.M., Ketua KOSTI Mataram Mudhofir, S.Pd., Sekretaris Suryono, S.Pd., serta Kepala Lingkungan GPI, Lalu Johan Wahyudi.
Ketua KOSTI NTB, Agus Cahyono, dalam sambutannya menegaskan bahwa KOSTI bukan sekadar wadah penyaluran hobi melestarikan sepeda tua, tetapi juga organisasi yang memiliki tanggung jawab moral.
“Kegiatan ini adalah potret kepedulian dan empati kami. Semangat kebersamaan tidak hanya ada di atas pedal, tapi juga dalam membantu sesama manusia. Kami bangga melihat antusiasme warga dan para onthelis dari Mataram hingga Lombok Barat yang hadir untuk bersedekah darah,” ujar Agus.
Agus menambahkan bahwa momentum HUT ke-18 ini dirayakan dengan berbagai aksi positif di wilayah NTB.
Di Mataram: Fokus pada aksi kemanusiaan donor darah, di Lombok Tengah: Menggelar siaran khusus bersama ORARI dan ngonthel bareng dan di Sumbawa: Melalui komunitas Pusaka Samawa, menggelar bakti sosial dan Jumat Berkah bagi warga kurang mampu.
Ketua KOSTI Mataram, Mudhofir, S.Pd., mengapresiasi seluruh pihak yang menyukseskan acara ini. Ia berharap aksi ini dapat mempererat solidaritas internal sekaligus meningkatkan kepekaan sosial anggota komunitas.
Perwakilan UDD PMI Lombok Barat, Ihsan Ali, S.Tr, mengungkapkan apresiasinya atas inisiatif KOSTI Mataram. Meski proses skrining kesehatan cukup ketat, antusiasme peserta tetap tinggi.
“Ada 25 orang yang mendaftar, namun setelah skrining kesehatan, 10 orang dinyatakan memenuhi syarat untuk diambil darahnya. Sisanya tertunda karena kadar hemoglobin (Hb) yang terlalu rendah. Total kami berhasil mengumpulkan 10 kantong darah yang sangat berarti untuk membantu pasien yang membutuhkan,” jelas Ihsan.
Aksi ini ditutup dengan suasana kekeluargaan yang kental, membawa harapan agar KOSTI terus menebar manfaat luas bagi masyarakat, seirama dengan laju pedal sepeda tua mereka yang tak lekang oleh zaman. (Yp*)
