LOMBOK UTARA, RadarNtb.com – Bhayangkari Cabang Lombok Utara membuktikan bahwa urusan limbah rumah tangga bisa menjadi solusi konkret bagi ketahanan pangan. Sebanyak 750 liter konsentrat Eco Enzym—yang jika diencerkan setara dengan 750 ribu liter pupuk alami—berhasil dipanen setelah melalui proses fermentasi selama tiga bulan.
Kegiatan panen raya ini berlangsung di Aula Sarja Arya Racana Polres Lombok Utara, Sabtu (21/2/2026), dipimpin langsung oleh Ketua Bhayangkari Cabang Lombok Utara, Ny. Heny Agus Purwanta.
Gerakan ini bukan sekadar seremoni. Ny. Heny menjelaskan bahwa produksi besar-besaran ini merupakan kelanjutan dari gerakan serentak nasional yang sempat memecahkan Rekor MURI pada November 2025 lalu.
Di Lombok Utara sendiri, sebanyak 150 anggota Bhayangkari turun tangan langsung mengolah limbah organik menjadi “cairan ajaib” ini.
“Kami berhasil memproduksi 750 liter biang Eco Enzym. Setelah melalui pengenceran, jumlah ini setara dengan 750 ribu liter pupuk alami yang siap digunakan untuk mendukung pertanian kita,” ujar Ny. Heny.
Menariknya, hasil panen ini tidak akan disimpan di gudang. Bhayangkari telah menyiapkan skema distribusi khusus agar manfaatnya langsung menyentuh akar rumput.
-
Penyaluran Lewat Gowes Kamtibmas: Sebagian besar Eco Enzym akan dibagikan kepada kelompok tani di desa-desa.
-
Kolaborasi dengan Polres: Distribusi akan dibarengi dengan program Gowes Kamtibmas yang diinisiasi oleh Kapolres Lombok Utara, AKBP Agus Purwanta, S.I.K.
-
Target: Membantu petani meningkatkan kesuburan tanah tanpa harus bergantung sepenuhnya pada pupuk kimia yang mahal.
Langkah ini dinilai sangat strategis dalam mendukung program Ketahanan Pangan Nasional yang dicanangkan Presiden RI, Prabowo Subianto.
Ny. Heny menekankan bahwa Eco Enzym adalah solusi “all-in-one” bagi masyarakat. Selain sebagai pupuk organik cair, cairan ini berfungsi sebagai: Pestisida Alami (Aman bagi lingkungan namun efektif mengusir hama).
Pengurai Limbah (Membantu menetralisir polusi di lingkungan sekitar) dan Penghemat Biaya Produksi (Mengurangi pengeluaran petani untuk input kimia).
“Kami ingin pengolahan limbah ini menjadi gerakan berkelanjutan di tingkat keluarga. Jika setiap rumah tangga bisa mengolah limbahnya sendiri, dampaknya secara ekonomi dan lingkungan akan luar biasa,” tutupnya optimis.
Dengan aksi nyata ini, Bhayangkari Lombok Utara menunjukkan bahwa peran perempuan dan komunitas sangat vital dalam menciptakan kemandirian pangan berbasis kearifan lokal. (wis)
