MATARAM, radarntb.com – Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) tengah mengalami transformasi sosial yang luar biasa. Berdasarkan data terbaru dari Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi NTB, daerah ini berhasil mencatat kemajuan signifikan dalam menekan ketimpangan gender. Namun, di balik kabar baik tersebut, NTB kini mulai menapakkan kaki pada fase transisi demografi baru, yakni menuju era ageing population atau masyarakat menua.
Fenomena ini menjadi sinyal penting bagi pemerintah dan masyarakat untuk segera beradaptasi dengan perubahan struktur penduduk.
Kepala BPS Provinsi NTB, Dr. Drs. Wahyudin, MM, mengungkapkan bahwa perbaikan kualitas pembangunan manusia ini ibarat dua sisi mata uang yang saling berkaitan.
“Penurunan ketimpangan gender merupakan indikator positif, tetapi di sisi lain kita juga harus mulai bersiap menghadapi perubahan struktur penduduk yang mengarah pada peningkatan jumlah lansia,” terangnya.
Indeks Ketimpangan Gender (IKG) NTB pada tahun 2025 tercatat membaik ke angka 0,515, sebuah pencapaian yang didorong oleh semakin kuatnya pemberdayaan perempuan dan akses kesehatan reproduksi yang lebih merata.
Keberhasilan menekan ketimpangan ini terlihat nyata dari angka persalinan di fasilitas kesehatan yang mencapai 83,82 persen, serta keberhasilan menurunkan angka pernikahan usia anak dari 14,96 persen menjadi 11,31 persen.
Tak hanya itu, keberpihakan anggaran pemerintah daerah yang mengalokasikan sekitar 8,53 persen dari realisasi APBD untuk program responsif gender turut mempercepat akses kaum perempuan di sektor pendidikan dan ekonomi.
Meski demikian, dinamika kependudukan NTB mulai bergeser, di mana proporsi penduduk lanjut usia kini telah menyentuh angka 9,72 persen.
Menanggapi fenomena penduduk menua ini, Wahyudin memberikan catatan serius mengenai dampaknya terhadap sistem sosial dan ekonomi di masa depan.
Berdasarkan hasil Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 2025, rasio ketergantungan di NTB kini berada di angka 48,77, yang berarti beban penduduk usia produktif untuk menopang kelompok usia non-produktif semakin nyata.
“Ini adalah fase transisi yang penting. Jika tidak dipersiapkan dengan baik, perubahan struktur penduduk dapat menjadi tantangan bagi sistem sosial dan ekonomi,” bebernya.
Di sisi lain, kualitas hidup masyarakat NTB secara umum terus menunjukkan tren positif. Angka Kematian Bayi (IMR) berhasil ditekan ke level 21,03 berkat cakupan imunisasi yang lebih luas, sementara Angka Kelahiran Total (TFR) menurun ke posisi 2,38 yang mencerminkan kedewasaan pola pikir masyarakat dalam berkeluarga.
Menutup penjelasannya, Wahyudin menekankan bahwa tantangan masa depan bukan sekadar mempertahankan angka-angka positif ini, melainkan bagaimana mengelola perubahan demografi tersebut menjadi peluang. Ia pungkasnya menyatakan,
“Ke depan, tantangannya bukan hanya menjaga tren positif ini, tetapi memastikan bahwa perubahan demografi dapat dikelola menjadi peluang pembangunan yang berkelanjutan,” pungkasnya.
