JAKARTA, radarntb.com — Langkah Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (Pemprov NTB) untuk menerapkan Sistem Manajemen Talenta dalam pengembangan karier Aparatur Sipil Negara (ASN) tinggal menghitung hari. Kesiapan Pemprov NTB mengarungi era baru tata kelola ASN ini mendapat apresiasi langsung dari Badan Kepegawaian Negara (BKN) RI.
Apresiasi tersebut mengemuka usai Gubernur NTB, H. Lalu Muhamad Iqbal (Miq Iqbal), memaparkan kesiapan dan rancangan pembangunan Sistem Manajemen Talenta Pemprov NTB di hadapan jajaran pejabat utama BKN RI di Jakarta, Kamis (6/8/2026).
Turut mendampingi Gubernur dalam kesempatan tersebut Sekretaris Daerah Provinsi NTB, Kepala BKD Provinsi NTB, serta Tim Manajemen Talenta BKD NTB. Forum klarifikasi, konfirmasi, dan validasi ini dipimpin oleh Deputi Bidang Penyelenggaraan Manajemen ASN BKN RI, Dr. Herman, M.Si., yang mewakili Kepala BKN RI Prof. Dr. Zudan Arif Fakrulloh.
Pertemuan tersebut dihadiri tim lengkap pejabat BKN RI, mulai dari Sekretaris Utama, para Deputi, Pejabat Fungsional Ahli Utama, Kepala Kantor Regional X BKN (Bali-Nusra), hingga Direktorat Pengembangan Talenta dan Karier ASN.
Dalam pemaparannya yang berlangsung selama 90 menit, Gubernur Miq Iqbal menegaskan pentingnya pembenahan dari akar rumput birokrasi. Ia menyebut bahwa pengembangan karier puluhan ribu ASN di NTB harus berada dalam sistem yang objektif, transparan, dan berbasis kinerja.
“Pengembangan karier ASN tidak boleh lagi bergantung pada kontestasi sesaat. Ke depan, karier aparatur harus dipandu oleh Manajemen Talenta ASN berbasis kinerja dan potensi, sehingga adil bagi ASN dan menguntungkan organisasi,” tegas Miq Iqbal.
Gubernur menjelaskan, mengelola sekitar 27.850 ASN di NTB butuh sistem modern dan berbasis data digital. Langkah ini sejalan dengan visi Bangkit Bersama Menuju NTB Provinsi Kepulauan yang Makmur Mendunia, khususnya Misi Ketujuh tentang percepatan transformasi birokrasi.
Ia menambahkan, kesuksesan Triple Agenda Pembangunan Daerah—mulai dari pengentasan kemiskinan, penguatan ketahanan pangan, hingga pemajuan pariwisata kelas dunia—sangat bergantung pada penempatan ASN yang tepat sesuai bakat dan kompetensinya (the right man on the right place).













