MANGGARAI, radarntb.com — Duka mendalam akibat gempa bumi magnitudo 7,7 yang mengguncang Flores, NTT, dirasakan nyata oleh Stefanus Mandut, warga Kampung Rentung, Desa Belang Turi, Kecamatan Ruteng, Kabupaten Manggarai.
Petani kebun yang sehari-hari tinggal seorang diri ini harus merelakan rumah tinggalnya hancur dan rata dengan tanah dalam hitungan detik.
Stefanus menceritakan momen mencekam saat tembok rumahnya mulai roboh menimpa tanah. Beruntung, ia berhasil menyelamatkan diri di detik-detik kritis.
“Tidak ada dalam pikiran saya peristiwa ini akan terjadi. Saat gempa menguncang, saya berhasil melarikan diri keluar kamar melewati dapur kecil,” tutur Stefanus dengan raut wajah pilu.
Kehilangan hunian tersebut menjadi pukulan yang sangat berat bagi Stefanus. Rumah permanen berdinding batu bata itu dibangun empat tahun lalu dengan penuh perjuangan dan air mata.
Ia menuturkan, rumah tersebut awalnya dibangun melalui program stimulan bantuan pemerintah sebesar Rp8 juta. Karena dana tersebut jauh dari kata cukup, Stefanus nekat menjual sebidang tanah milik keluarga untuk menambah biaya pembangunan agar rumahnya berdiri kokoh.
“Memang ada campur tangan pemerintah waktu itu sebesar Rp8 juta, tapi tentu tidak cukup. Saya rela menjual sebidang tanah supaya bisa membangun rumah yang layak. Begitu rumah runtuh sekejap, saya hanya bisa menahan air mata dan merasa hilang arah,” ungkapnya haru.
Pasca-bencana, rumah Stefanus sudah terdata oleh Pemerintah Desa (Pemdes) Belang Turi sebagai salah satu bangunan yang mengalami kerusakan total. Namun, hingga kini bantuan penanganan struktur dari pemerintah tingkat atas belum berkunjung.
Selama masa tanggap darurat, Stefanus baru menerima pasokan sembako yang disalurkan oleh PT Pupuk Indonesia.
“Bantuan resmi dari pemerintah belum ada sama sekali. Jangankan bantuan, datang melihat kondisi kami di sini saja belum ada, kecuali pihak Pemdes yang sudah datang mendokumentasikan,” aku Stefanus.
Ia berharap Pemkab Manggarai, Pemprov NTT, hingga Pemerintah Pusat dapat memberikan perhatian dan bantuan perbaikan rumah secara adil, sebagaimana korban gempa di wilayah lainnya.
Harapan serupa dilontarkan Bonefasius Ito, warga Belang Turi lainnya. Ia mengaku belum tersentuh bantuan logistik maupun pemulihan dari pemerintah.
“Perhatian pemerintah tentu memberi warna dan semangat tersendiri bagi kami. Kami di sini juga korban gempa yang sangat membutuhkan uluran tangan,” pungkas Bonefasius.













