MATARAM, radarntb.com – Kemajuan Artificial Intelligence (AI) bak pisau bermata dua bagi generasi muda. Di satu sisi menawarkan kemudahan, namun di sisi lain mengancam integritas dan daya kritis. Pesan menohok ini disampaikan Bunda Literasi Provinsi NTB, Sinta Agathia M Iqbal, dalam Seminar Nasional di Gedung Teater Perpustakaan UIN Mataram, Rabu (13/5/2026).
Di hadapan ratusan mahasiswa, Bunda Sinta memberikan “kuliah singkat” tentang cara cerdas memanfaatkan teknologi tanpa kehilangan jati diri.
Bunda Sinta menyoroti perubahan kontras antara mahasiswa era 90-an yang harus antre di warnet dengan generasi sekarang yang bisa mengakses segalanya lewat gawai. Namun, kemudahan ini justru membawa tantangan baru.
“Dengan AI yang melesat, jangan sampai teknologi ini membuat kalian jadi generasi yang ‘mager’ atau malas. AI seharusnya membantu kalian bekerja lebih maksimal, bukan untuk menggampangkan segala hal tanpa proses berpikir kritis,” tegasnya.
Berdasarkan pengalamannya saat mendampingi suami bertugas sebagai Duta Besar, Bunda Sinta mengungkap fakta mengejutkan soal penipuan beasiswa. Banyak mahasiswa Indonesia yang tertipu oleh brosur “cantik” di media sosial.
Ia mencontohkan kasus di beberapa negara, seperti Turki. Banyak calon mahasiswa tergiur foto kampus yang terlihat berada di pusat kota strategis, padahal aslinya berada di pelosok dengan fasilitas minim.
Beberapa Tips dari Bunda Sinta agar tidak tertipu beasiswa:
-
Jangan Cuma Sekali Klik: Riset mendalam soal silabus dan akreditasi.
-
Cek Lokasi Nyata: Gunakan teknologi untuk verifikasi lokasi kampus.
-
Hubungi PPI: “Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) di negara tujuan adalah sumber informasi paling akurat. Tanya mereka kondisi nyata di lapangan,” pesannya.
Menariknya, Bunda Sinta menarik benang merah antara literasi digital dengan isu sosial di NTB, seperti stunting dan pernikahan anak. Ia miris melihat banyak ibu muda Gen Z yang menelan mentah-mentah informasi dari internet soal pola asuh.
“Masalah stunting terkadang bukan soal ekonomi, tapi literasi gizi. Karena kemudahan aplikasi pesan antar makanan, kandungan gizi anak sering terabaikan oleh orang tua yang kurang literasi,” tambahnya.
Menutup arahannya, ia berpesan agar para pemburu beasiswa tidak hanya mengejar gratisnya biaya kuliah (tuition fee), tetapi juga menyiapkan mental untuk beradaptasi dengan budaya dan biaya hidup di luar negeri.
“Literasi bukan sekadar bisa membaca, tapi memahami informasi secara utuh dan menjadikannya bekal bertahan hidup,” tutupnya.













