LOMBOK UTARA, radarntb.com – Suasana khidmat di SLB Negeri 1 Lombok Utara seketika berubah menjadi haru biru, Jumat (10/4/2026). Ketua Pengurus Yayasan Kemala Bhayangkari NTB, Ny. Uty Edy Murbowo, tak kuasa membendung air mata saat mendengar suara hati anak-anak berkebutuhan khusus yang begitu menyayat nurani.
Momen emosional itu memuncak ketika para siswa membacakan puisi dengan bait yang menggetarkan jiwa: “Kami dilahirkan, namun tak diinginkan…”
Mendengar kalimat tersebut, Ny. Uty langsung tertunduk. Air matanya menetes. Tanpa sekat, ia segera menghampiri para siswa, mendekap mereka dalam pelukan hangat yang panjang, seolah ingin menghapus luka dari balik kata-kata puisi tersebut.
Dengan suara bergetar karena emosi, Ny. Uty memberikan motivasi yang membangkitkan semangat para siswa. Ia menegaskan bahwa label “berkebutuhan khusus” bukanlah penghalang untuk bermimpi besar.
“Kalian adalah anak-anak yang kuat, hebat, dan membanggakan. Teruslah belajar, bermain, dan bermimpi. Jangan pernah merasa berbeda, karena setiap dari kalian adalah istimewa dan memiliki kelebihan masing-masing,” ujar Ny. Uty dengan mata yang masih berkaca-kaca.
Ia juga mengaku sangat tersentuh dengan pesan Kepala Sekolah yang mengutip nilai luhur: “Tak ada ciptaan Allah SWT yang sia-sia.” Baginya, ini adalah pengingat bahwa setiap anak terlahir dengan tujuan dan potensi luar biasa.
Bukan sekadar kunjungan seremoni, Bhayangkari NTB hadir membawa “napas baru” bagi fasilitas sekolah. Ny. Uty secara langsung menyerahkan bantuan sosial berupa:
-
2 Unit Kursi Roda dan 3 Tongkat Tuna Netra.
-
2 Alat Bantu Dengar.
-
Alat permainan edukatif, matras bermain, alat tulis, hingga puluhan bingkisan kasih sayang.
Tak hanya itu, Ny. Uty bersama Ketua Bhayangkari Cabang Lombok Utara, Ny. Heny Agus Purwanta, meresmikan fasilitas vital sekolah melalui penandatanganan prasasti, mulai dari Gedung UKS, Tata Boga Dhira Brata, hingga Galeri Tantya Sudhirajati.
Ny. Heny Agus Purwanta menambahkan bahwa dukungan terhadap anak-anak SLB harus dilakukan secara kolektif oleh seluruh elemen masyarakat, bukan hanya sekolah.
“Anak-anak ini punya potensi besar. Pendampingan harus berkelanjutan. Kita harus hadir memastikan mereka mendapatkan hak dan martabat yang sama,” tegas Ny. Heny.
Catatan Redaksi: Kunjungan ini menjadi potret bahwa empati bukan sekadar kata-kata di atas kertas. Di SLBN 1 Lombok Utara, Bhayangkari NTB membuktikan bahwa kehadiran mereka adalah tentang memberikan rasa aman, kasih sayang, dan pengakuan bagi mereka yang selama ini mungkin merasa “terlupakan”. (Ws*/Red)
