Banner Iklan Aruna

Melepas Dunia di Sekarbela: Isak Tangis dan Doa Mengalir dalam Tradisi ‘Nyimpen’ Jemaah Haji

  • Bagikan
Melepas Dunia di Sekarbela: Isak Tangis dan Doa Mengalir dalam Tradisi ‘Nyimpen’ Jemaah Haji
Melepas Dunia di Sekarbela: Isak Tangis dan Doa Mengalir dalam Tradisi ‘Nyimpen’ Jemaah Haji

MATARAM, radarntb.com – Siang itu, Masjid Al Raisiyah Sekarbela tidak hanya dipenuhi oleh deretan koper yang tertata rapi. Di balik balutan kain koper tersebut, ada doa yang dititipkan, harapan yang digantungkan, dan air mata perpisahan yang tak terbendung. Itulah Nyimpen, sebuah tradisi luhur masyarakat Sekarbela dalam melepas para tamu Allah menuju Tanah Suci.

Tahun ini, sebanyak 35 Calon Jemaah Haji (CJH) dari empat lingkungan—Pande Mas Timur, Pande Mas Barat, Pande Besi, dan Mas Mutiara—menjalani prosesi sakral ini. Nyimpen bukan sekadar urusan mengepak barang bawaan, melainkan simbol kepasrahan total seorang hamba sebelum menapakkan kaki di Makkah dan Madinah.

Bagi warga Sekarbela, memasukkan perlengkapan ke dalam koper adalah prosesi spiritual. Dibimbing oleh para tokoh agama, setiap barang yang masuk diiringi lantunan tahlil dan dzikir yang menggetarkan jiwa.

Suasana masjid yang biasanya tenang, seketika berubah menjadi haru. Ada tangan-tangan yang gemetar saat menyentuh koper, seolah sadar bahwa perjalanan ini adalah panggilan suci yang memisahkan mereka sejenak dari hiruk-pikuk dunia.

Wali Kota Mataram, H. Mohan Roliskana, didampingi Wakil Wali Kota TGH Mujiburrahman, hadir langsung untuk merawat tradisi ini pada Sabtu (18/04). Dalam sambutannya yang menyentuh, Mohan menekankan bahwa Nyimpen adalah warisan ijtihad para orang tua terdahulu yang mengandung nilai kebersamaan yang sangat kuat.

“Tradisi ini bukan hanya kebiasaan, tetapi nilai yang hidup. Ini adalah bentuk ijtihad yang diwariskan orang tua kita untuk menjaga silaturahmi dan saling menguatkan batin sebelum berangkat,” ujar Mohan.

Lebih dari sekadar seremonial, Wali Kota mengingatkan para jemaah bahwa momen Nyimpen adalah titik awal untuk “melepas” segala urusan duniawi.

“Ibadah haji adalah perjalanan hati. Nyimpen mengajarkan kita untuk mulai menata keikhlasan, melepaskan keterikatan dunia sementara, agar fokus kita hanya kepada Sang Pencipta,” pesan Wali Kota dengan penuh khidmat.

Kehadiran petinggi Kota Mataram ini menegaskan bahwa di tengah modernisasi, tradisi lokal seperti Nyimpen tetap menjadi jangkar bagi masyarakat. Prosesi ini tidak hanya menjadi milik keluarga jemaah, tapi menjadi hajat besar seluruh warga Sekarbela yang saling bahu-membahu memastikan keberangkatan para tamu Allah berjalan lancar.

Kini, koper-koper itu telah terkunci rapat, namun doa-doa yang ditiupkan di dalamnya akan terus mengalir, mengiringi setiap langkah jemaah menuju Baitullah.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *