Lombok Tengah, radarntb.com – Kepedulian mendalam ditunjukkan oleh Ketua Bhayangkari Daerah Nusa Tenggara Barat (NTB), Ny. Widhy Kalingga Rendra Raharja. Bersama Kapolda NTB dan Kakanwil Kemenag NTB, ia melakukan kunjungan kemanusiaan ke rumah anak-anak yang menjadi korban kekerasan di sebuah pondok pesantren (Ponpes) di Lombok Tengah, Selasa (7/7/2026).
Kunjungan kerumah orban kekerasan di Ponpes ini merupakan wujud nyata empati terhadap para korban yang mengalami peristiwa traumatis pada Desember tahun lalu.
Rombongan menyambangi kediaman korban, yakni Sahil Al Hadri di Dusun Gontoran, Desa Teratak, dan satu korban lainnya di Desa Karang Sidemen, Kecamatan Batukliang Utara. Melihat kondisi luka yang dialami anak-anak tersebut, Ny. Widhy bersama jajaran memastikan tindakan medis yang lebih optimal.
Dengan persetujuan keluarga, kedua korban langsung dievakuasi ke Rumah Sakit Bhayangkara Mataram.
“Kunjungan ini adalah bentuk empati mendalam dari kami. Kami ingin memastikan anak-anak kita mendapatkan perawatan yang lebih intensif untuk memulihkan luka fisik mereka,” ungkap Ny. Widhy Kalingga Rendra Raharja di sela-sela kunjungannya.
Tak hanya bantuan medis, Bhayangkari NTB berkomitmen mendampingi pemulihan mental para korban melalui program trauma healing. Pendampingan ini juga menyasar para ibu yang setia mendampingi anak-anaknya di masa sulit ini. Selain santunan ekonomi, masa depan pendidikan korban menjadi prioritas utama.
“Perhatian kami tidak berhenti pada fisik dan psikis. Masa depan pendidikan mereka adalah tanggung jawab kita bersama,” tegas Ny. Widhy.
Demi menjamin pendidikan anak-anak tersebut tidak terputus, Kakanwil Kemenag NTB bergerak cepat melakukan sinkronisasi data Dapodik. Langkah ini diambil agar korban bisa segera pindah ke Madrasah Tsanawiyah (MTs) Negeri dengan dukungan beasiswa penuh hingga lulus.
Aksi kolaboratif antara Polri, Bhayangkari, dan Kemenag NTB ini diharapkan mampu menjadi momentum perbaikan sistem perlindungan anak di lingkungan pendidikan, khususnya pondok pesantren di NTB. Harapannya, tidak ada lagi anak-anak yang harus menanggung trauma di tempat yang seharusnya menjadi rumah kedua bagi mereka untuk menimba ilmu.
