Banner Iklan Aruna

Dirut MGPA dan Legenda Balap Nasional Ungkap Perjalanan Sukses Mandalika Racing Series 2025

  • Bagikan
Dirut MGPA dan Legenda Balap Nasional Ungkap Perjalanan Sukses Mandalika Racing Series 2025
Dirut MGPA dan Legenda Balap Nasional Ungkap Perjalanan Sukses Mandalika Racing Series 2025

MANDALIKA, radarntb.com — Di tengah euforia putaran final Pertamina Mandalika Racing Series (MRS) 2025, Direktur Utama Mandalika Grand Prix Association (MGPA), Priandhi Satria, dan legenda balap nasional, Ahmad Jayadi (Pride Motorsport), berbagi pandangan eksklusif mengenai evolusi ajang balap yang kini telah menjadi Kejuaraan Nasional (Kejurnas) roda dua tersebut.

Priandhi Satria memulai pembicaraan dengan mengenang momen lahirnya MRS pada tahun 2023 lalu hingga digelarnya Pertamina Mandalika Racing Series (MRS) tahun 2025 ini.

Ajang Pertamina Mandalika Racing Series (MRS) yang digelar dari tahun 2023 hingga tahun 2025 ini lahir dari kebutuhan mengisi slot kosong jadwal World Superbike (WSBK).

“Kita bertemu lagi di Mandalika, Mas Jayadi. Rasanya seperti reuni teman lama. Dulu tahun 2023, kita bersama Pak Eddy Saputra dan Mas Arief Syahbani berdiskusi di Cikini, di kantor Pak Eddy, untuk membuat satu ajang balap mengisi kekosongan jadwal WSBK. Dari situlah lahir nama Mandalika Racing Series,” kenang Priandhi.

Priandhi menekankan pertumbuhan luar biasa MRS, yang berawal hanya dengan 15 starter dan kini memasuki tahun ketiga dengan melibatkan lebih dari seratus pembalap.

“Kalau dipikir-pikir, MRS ini lahir karena keberkahan juga. Kalau waktu itu slot WSBK tidak kosong, mungkin MRS belum tentu lahir,” kata Priandhi.

Selain dari sisi kuantitas, Priandhi juga menyoroti peningkatan kualitas dan profesionalisme dalam pelaksanaan balapan, terutama mengenai aspek disiplin pembalap.

“Saya juga memperhatikan dari sisi disiplin. Sekarang sistem penalti di MRS sudah diterapkan dengan sangat profesional. Dulu sempat ada sistem denda uang, tapi Pride Motorsport menggantinya dengan penalti waktu (time penalty) agar lebih mendidik. Tujuannya supaya pembalap belajar disiplin, bukan sekadar membayar kesalahan,” tegas Priandhi, memuji langkah promotor.

Ia melihat MRS bukan hanya sekadar ajang balap, tetapi wadah pembentukan karakter yang selaras dengan standar internasional.

Menanggapi pandangan Priandhi, Ahmad Jayadi mengungkapkan rasa bangga atas capaian MRS yang kini telah menjadi ikon balap nasional. Ia melihat “kekosongan” jadwal tersebut justru menjadi kesempatan emas untuk membangun sejarah baru motorsport Indonesia.

Jayadi menegaskan bahwa MRS telah meningkatkan level kompetisi pembalap Indonesia secara signifikan.

“Dulu pembalap Indonesia hanya mendominasi di kelas Underbone, tapi sejak adanya MRS, kita bisa lihat pembalap kita bersaing di kelas 250cc, 600cc, bahkan 1000cc. Mereka bukan cuma ikut, tapi benar-benar berebut podium. Itu bukti bahwa MRS punya dampak besar terhadap peningkatan level pembalap Indonesia,” jelas Jayadi.

Mengenai sistem penalti waktu, Jayadi mengatakan langkah itu adalah yang paling tepat. Disiplin adalah kunci di dunia balap internasional.

“Dengan sistem penalti, pembalap belajar mengelola waktu dan tanggung jawabnya sendiri… Rider yang juara pasti yang paling disiplin. Mereka belajar mengatur waktu, menjaga fokus, dan menghadapi penalti sebagai pelajaran, bukan beban,” terang Jayadi.

Jayadi dan Pride Motorsport berfokus pada regenerasi dengan membuka kelas Junior Sport Under 15 yang mayoritas pesertanya adalah pendatang baru. Kelas ini bertujuan memberikan ruang bagi anak muda usia 12–15 tahun untuk berkembang secara bertahap.

“Semua tim besar Indonesia turun di MRS, dan mereka tahu ajang ini bukan hanya soal kompetisi, tapi juga pembinaan. Sekarang sudah ada jenjang jelas, kelas Under 15, Under 25, dan senior,” tambahnya.

Sebagai puncak pembinaan, Jayadi mengungkapkan bahwa beberapa pembalap berprestasi dari MRS dibawa untuk berlatih di VR46 Riders Academy di Italia.

“Mereka berlatih bersama pembalap dunia seperti Marco Bezzecchi dan Pecco Bagnaia. Ini pengalaman yang mengubah cara pandang tentang arti menjadi pembalap profesional,” ujar Jayadi.

Ia menyimpulkan, juara tidak hanya butuh kecepatan, tetapi juga kerja keras, mental, dan konsistensi (mindset).

“Harus ada, Om! Ini bukan sekadar ajang balap, tapi bagian dari sistem pembinaan motorsport nasional, menjadikan MRS sebagai rumah bagi lahirnya pembalap-pembalap Indonesia yang siap berprestasi di tingkat dunia,” pungkasnya.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *