Logika yang Tenggelam di Ujung Pasang

  • Bagikan
Logika yang Tenggelam di Ujung Pasang
Foto Ilustrasi Logika yang Tenggelam di Ujung Pasang. (pexels.com/ Abdulrahman Abubakar) Cerpen: Logika yang Tenggelam di Ujung Pasang

CERPEN – Di sebuah desa yang tidak pernah benar-benar masuk ke dalam peta besar, tetapi selalu hidup dalam ingatan angin dan arah burung laut, laut dan darat tidak pernah benar-benar saling meninggalkan. Mereka hanya berganti peran, seperti napas yang masuk dan keluar dari tubuh yang sama.

Desa itu tidak punya batas yang pasti, karena batasnya selalu ditulis ulang oleh musim. Kadang laut mundur jauh, memberi ruang bagi tanah untuk berpura-pura menjadi permanen. Kadang ia maju perlahan, mengingatkan bahwa semua yang disebut tetap hanya kesepakatan sementara.

Di desa itu tinggal dua saudara: Ntala dan Ntelok. Orang-orang tidak pernah benar-benar bisa menjelaskan siapa di antara mereka yang lebih tua, karena keduanya seperti lahir dari waktu yang sama, hanya tumbuh dengan cara yang berbeda.

Ntala adalah perempuan yang percaya bahwa dunia harus dipahami. Ntelok adalah perempuan yang percaya bahwa dunia harus didengarkan.

Di antara keduanya, desa itu tetap hidup.

Ntala bekerja dengan hal-hal yang bisa diukur. Ia membaca laut seperti membaca angka yang bergerak. Ia tahu kapan ikan akan menjauh hanya dari perubahan arah angin. Ia menghitung musim dari suhu air. Bahkan fermentasi terasi baginya adalah proses yang bisa dijelaskan: waktu, garam, udara, dan kesabaran yang terukur.

“Kalau semua variabelnya tepat,” kata Ntala suatu pagi, “hasilnya tidak akan salah.”

Ntelok duduk di dekat pintu, memandangi laut yang jauh seperti seseorang yang sedang mendengarkan cerita yang tidak ingin dipotong.

“Tidak semua yang tepat itu benar,” jawabnya pelan.

Ntala tidak menoleh.

“Tapi yang tidak tepat biasanya gagal.”

Ntelok tersenyum kecil.

“Atau sedang berubah menjadi sesuatu yang belum kita kenal.”

Pekerjaan mereka sederhana: mengolah apa yang laut berikan. Terasi dibuat dari udang kecil yang tidak pernah dianggap penting oleh dunia besar. Kerupuk dibuat dari sisa yang hampir tidak dianggap ada.

Namun di desa itu, tidak ada yang benar-benar sisa. Semua adalah bagian dari siklus yang lebih panjang dari umur manusia.

Ntala mengatur semuanya seperti seseorang yang menjaga agar dunia tidak jatuh ke dalam kekacauan. Ia percaya keteraturan adalah cara alam menjaga dirinya tetap masuk akal.

Ntelok membiarkan waktu bekerja dengan caranya sendiri. Ia tidak mempercepat, tidak menahan. Ia hanya hadir.

Saat Ntala mengukur, Ntelok menunggu. Saat Ntala mencatat, Ntelok mendengar. Saat Ntala memastikan, Ntelok membiarkan kemungkinan tetap hidup.

***

Suatu musim, laut berubah. Tidak tiba-tiba. Tidak dramatis.

Hanya perlahan, seperti seseorang yang mulai berbicara dengan suara lebih pelan dari biasanya, memaksa dunia untuk mendekat agar bisa mengerti.

Udang kecil semakin jarang. Terasi tidak lagi memiliki aroma yang sama. Kerupuk tidak lagi mengembang seperti dulu. Ada sesuatu yang bergeser, tetapi tidak bisa ditunjuk dengan jari.

Desa mulai gelisah.

Ntala mulai menghitung lebih keras, seolah angka bisa memaksa dunia kembali ke bentuk lamanya.

“Ada yang salah,” katanya suatu hari. “Tapi tidak terlihat di pola yang biasa.”

Ntelok berdiri di tepi laut, membiarkan angin menyentuh wajahnya.

“Kalau tidak terlihat,” katanya, “mungkin kamu sedang melihat dengan cara yang terlalu sempit.”

Ntala menoleh cepat.

“Dunia tidak bisa dipahami tanpa pola.”

Ntelok mengangguk.

“Tapi tidak semua pola terlihat dari tempat yang sama.”

Laut terus berubah. Air naik sedikit demi sedikit, seperti sesuatu yang tidak ingin dipaksa terburu-buru. Tidak seperti bencana dalam cerita-cerita besar, melainkan seperti pergeseran kecil yang terus menumpuk sampai akhirnya tidak bisa diabaikan.

Orang-orang mulai berbicara tentang pindah. Tentang meninggalkan tanah yang selama ini mereka anggap pasti.

Ntala mencatat semuanya. Nama, waktu, perubahan. Ntelok hanya diam.

“Kenapa kamu tidak khawatir?” tanya Ntala akhirnya.

Ntelok menatap air yang menyentuh batu-batu pantai.

“Karena laut tidak pernah tiba-tiba,” jawabnya.

“Kita saja yang sering terlambat mengerti.”

Suatu malam, hujan turun sangat lama. Bukan hujan yang marah, tetapi hujan yang seperti tidak ingin selesai berbicara. Ntala tidak tidur. Ia mencari pola yang hilang di antara catatan-catatan yang mulai tidak cocok dengan kenyataan. Ntelok berdiri di luar rumah, membiarkan air jatuh ke tubuhnya tanpa perlawanan.

“Ntala,” panggilnya pelan.

“Apa?”

“Kalau semua yang kamu hitung berubah, apakah dunia berhenti masuk akal?”

Ntala berhenti menulis. Untuk pertama kalinya, angka-angka tidak memberinya jawaban cepat dan itu membuat sunyi terasa lebih berat dari hujan.

***

Hari ketika laut akhirnya mendekat lebih jauh dari biasanya, desa mulai bergerak. Rumah-rumah dipindahkan ke tempat yang lebih tinggi. Orang-orang membawa barang-barang yang bisa diselamatkan, dan meninggalkan sisanya pada tanah yang perlahan berubah menjadi air.

Ntala merasa dunia kehilangan kepastian.

Segala yang ia pahami tentang keteraturan mulai retak bukan karena runtuh, tetapi karena berubah tanpa izin. Ntelok justru terlihat lebih tenang.

“Ini bukan rusak,” katanya. “Ini hanya berubah bentuk.”

Ntala menatapnya lama. “Bagaimana kamu bisa melihat semuanya seperti itu?”

Ntelok menjawab pelan, “karena aku tidak pernah percaya bahwa bentuk itu tetap.”

Di hari ketika air laut menyentuh halaman rumah mereka, Ntala akhirnya berhenti menghitung. Ia tidak lagi mencari pola di mana pun. Ia hanya berdiri di samping Ntelok. Air perlahan menghapus garis yang dulu mereka sebut batas.

“Kalau semua ini berubah,” kata Ntala pelan, “apa gunanya logika?”

Ntelok tidak langsung menjawab. Ia menatap air, angin, dan langit yang tidak lagi terpisah.

“Logika itu penting,” katanya akhirnya.

“Tapi logika hanya satu cara untuk tidak tersesat.”

Ia berhenti sebentar. “Tapi alam tidak pernah hanya memakai satu bahasa.”

Malam itu mereka duduk di atap rumah yang mulai disentuh air. Desa di bawah mereka tidak hancur dalam satu peristiwa besar. Ia bergeser perlahan. Seperti sesuatu yang sedang mencari keseimbangan baru, bukan kehilangan bentuk.

Ntala berkata pelan, “aku selalu percaya dunia bisa dipahami kalau cukup dihitung.”

Ntelok menatapnya. “Tapi aku selalu percaya dunia tetap hidup justru karena tidak semuanya bisa dihitung.”

Ntala diam lama. Lalu untuk pertama kalinya, ia tidak menolak kata-kata itu.

Di kejauhan, laut dan darat tidak lagi saling berhadapan. Mereka menjadi satu ruang yang terus bergerak. Tidak ada kemenangan. Tidak ada kekalahan. Hanya perubahan yang tidak meminta izin.

Ntala akhirnya memahami bahwa logika bukan musuh alam, melainkan alat kecil untuk membaca sebagian dari sesuatu yang jauh lebih besar.

Ntelok memahami bahwa rasa tanpa arah bisa kehilangan pijakan.

Di antara keduanya, keseimbangan muncul bukan sebagai keadaan tetap, tetapi sebagai proses yang terus hidup.

Seperti terasi yang menjadi kuat bukan hanya karena waktu, tetapi karena kesabaran. Seperti kerupuk yang mengembang bukan hanya karena panas, tetapi karena ruang untuk berubah. Seperti laut yang tidak pernah berhenti berbicara, hanya manusia yang perlahan belajar mendengarnya dengan cara yang berbeda.

Info Penulis:

Halimatu Sa’diah – Koruch kini berdomisili di Polandia. Ia memiliki minat pada jurnalisme dan fotografi. Ia menempuh pendidikan S1 di Indonesia dan S2 di Thailand. Ia tertarik pada topik lingkungan, perempuan, sosial, dan budaya.
Alamat : Kulon Progo, Yogyakarta
Sosial Media :
• https://www.linkedin.com/in/hssadiahh/
• https://www.facebook.com/hssadiahh/
• https://www.instagram.com/say.helloooooo/

 

  • Bagikan
Exit mobile version