LOMBOK UTARA, radarntb.com – Ketua Bhayangkari Cabang Lombok Utara, Ny. Heny Agus Purwanta, menekankan pentingnya peran keluarga dalam upaya pencegahan stunting.
Menurutnya, solusi stunting tidak cukup hanya mengandalkan layanan kesehatan formal, melainkan memerlukan pendekatan transformatif yang menempatkan ibu dan remaja sebagai garda terdepan pembangunan gizi dan kesehatan anak.
Pernyataan ini disampaikan ketua Bhayangkari Lombok Utara saat memimpin kegiatan monitoring dan pembinaan Posyandu Stunting 8 Project di Posyandu Jasmin, Desa Batu Rakit, Kecamatan Bayan, pada Selasa (3/6).
Kegiatan tersebut menunjukkan antusiasme tinggi dengan partisipasi 85 bayi dan balita, 15 ibu hamil, 22 remaja, 38 lansia, serta 212 warga usia produktif dalam program pelayanan terpadu ini.
Meski demikian, data juga mencatat adanya 18 anak dengan kasus stunting aktif dan satu ibu hamil dengan kondisi kekurangan energi kronis (KEK).
“Stunting adalah masalah yang bisa dan harus kita perbaiki. Kita masih punya waktu untuk mencegah dampaknya, asalkan semua pihak—terutama keluarga—terlibat aktif membangun pola hidup sehat dan pemenuhan gizi yang berkelanjutan,” tegas Ny. Heny dalam sambutannya.
Pada kesempatan itu, Bhayangkari juga membagikan ratusan paket gizi berupa susu dan telur rebus segar. Pembagian ini bukan hanya sebagai bantuan langsung, melainkan juga sebagai edukasi konkret.
“Kami ingin menunjukkan bahwa makanan bergizi tidak harus mahal, tapi harus tepat. Dan yang terpenting adalah kebiasaan—budaya makan sehat di keluarga,” ujarnya.
Ny. Heny mengajak masyarakat untuk melihat Posyandu bukan hanya sebagai tempat penimbangan anak, melainkan sebagai pusat pendidikan gizi dan pemberdayaan komunitas.
“Kami ingin Posyandu berevolusi menjadi simpul literasi gizi keluarga. Di sinilah ibu-ibu belajar, remaja dididik, dan keluarga dibentuk agar sadar pentingnya 1.000 hari pertama kehidupan. Ini adalah investasi SDM jangka panjang,” tambahnya.
Ia juga menyoroti bahwa pembangunan manusia Indonesia harus dimulai dari desa. Dengan 212 warga usia produktif, Desa Batu Rakit memiliki kekuatan sosial yang sangat besar.
Bhayangkari, kata Ny. Heny, hadir untuk mengaktivasi kekuatan tersebut melalui pelatihan, pendampingan, dan kerja sama lintas sektor.
“Pencegahan stunting tidak cukup dengan intervensi medis. Kita butuh perubahan budaya dan pengetahuan. Maka, membangun SDM desa menjadi kata kunci. Inilah yang sedang kami dorong bersama masyarakat,” jelasnya.
Kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen Bhayangkari dalam mendukung program nasional percepatan penurunan stunting yang berbasis pada pendekatan komunitas.
Bhayangkari kini tidak hanya menjadi pendamping moral institusi kepolisian, tetapi juga mitra strategis dalam pembangunan sosial, kesehatan keluarga, dan pemberdayaan perempuan desa.
“Kalau kita ingin generasi unggul di masa depan, maka kita harus mulai sekarang—dari desa, dari keluarga, dari ibu-ibu. Di sinilah masa depan bangsa ditempa,” pungkas Ny. Heny.













