MATARAM, RadarNTB.com – Insiden memilukan terjadi di dunia pendidikan Nusa Tenggara Barat. Dua ruang kelas di SMAN 7 Mataram dilaporkan ambruk secara tiba-tiba pada Selasa (19/5/2026). Peristiwa yang terjadi di tengah proses belajar-mengajar ini langsung direspons cepat oleh Pemerintah Provinsi NTB.
Kepala Dinas Kominfotik sekaligus Juru Bicara Pemprov NTB, Dr. H. Ahsanul Khalik, merilis keterangan resmi setelah tim gabungan dari Dinas Dikpora, Dinas PUPR, dan Komisi V DPRD NTB turun langsung melakukan investigasi di lokasi kejadian.
Berdasarkan keterangan resmi Pemprov NTB yang diterima Radar NTB, Rabu (20/5/2026) melalui pesan WhatsApp grup, adalah 5 fakta krusial terkait insiden ambruknya bangunan SMAN 7 Mataram, antaranya:
1. Kronologi Kejadian dan Kondisi Korban
Peristiwa runtuhnya atap bangunan ini untungnya terjadi saat jam istirahat, sehingga sebagian besar siswa tengah berada di luar ruangan. Meski demikian, tercatat ada 5 orang siswa yang menjadi korban.
“Seluruh korban mengalami luka ringan dan lecet. Sebanyak 4 siswa sudah diizinkan kembali ke rumah, sementara 1 siswa masih harus menjalani observasi di rumah sakit untuk penanganan trauma,” ungkap Ahsanul Khalik dalam keterangan persnya.
Pemprov NTB memastikan seluruh biaya pengobatan korban ditanggung penuh oleh pemerintah.
2. Penyebab Teknis Robohnya Bangunan
Berdasarkan pemeriksaan awal tim teknis Dinas PUPRPKP NTB, ambruknya fasilitas sekolah tersebut disebabkan oleh struktur atap yang mengalami patah pada konstruksi kap. Diketahui, bangunan tua yang berdiri sejak tahun 2006 melalui dana sumbangan komite sekolah ini menggunakan rangka kayu tradisional dengan beban penutup genteng beton yang sangat berat.
3. Ironi Anggaran DAK 2024 yang Tersandera Kasus Hukum
Di balik tragedi ini, terungkap fakta mengejutkan. Dua ruang kelas yang ambruk tersebut sebenarnya sudah masuk dalam daftar rehabilitasi berat menggunakan Dana Alokasi Khusus (DAK) Tahun 2024.
Namun tragisnya, proyek pembangunan ruang kelas baru di SMAN 7 Mataram tersebut belum bisa dimanfaatkan hingga hari ini karena tersangkut proses penanganan hukum.
“Seluruh anggaran program tersebut diketahui sudah dibayarkan 100 persen, namun pembangunan ruang kelas belum terselesaikan sepenuhnya di lapangan. Apabila proyek itu selesai tepat waktu sesuai perencanaan, para siswa semestinya sudah menempati ruang kelas baru yang jauh lebih layak dan aman,” beber Jubir Pemprov NTB dengan nada prihatin.
4. Langkah Tegas Penjabat Gubernur NTB
Menyikapi situasi darurat ini, Gubernur NTB memberikan instruksi keras kepada seluruh jajaran terkait untuk:
-
Memprioritaskan kesembuhan dan pendampingan psikologis (trauma healing) bagi siswa terdampak.
-
Melakukan audit total dan evaluasi kelayakan kelistrikan serta struktur bangunan lain di lingkungan SMAN 7 Mataram guna mencegah ambruk susulan.
-
Mengawal percepatan status hukum proyek mangkrak agar fasilitas sekolah bisa segera diperbaiki demi keselamatan siswa.
Saat ini, tim teknis dari Dinas PUPR masih bersiaga di lokasi untuk melakukan penanganan awal dan mengamankan puing-puing bangunan agar tidak membahayakan aktivitas di area sekolah.













