Banner Iklan Aruna

Jadi Kiblat Energi Hijau, NTB Jamu Delegasi 5 Negara dalam Forum Internasional Transisi Energi

  • Bagikan
Jadi Kiblat Energi Hijau, NTB Jamu Delegasi 5 Negara dalam Forum Internasional Transisi Energi
Jadi Kiblat Energi Hijau, NTB Jamu Delegasi 5 Negara dalam Forum Internasional Transisi Energi

MATARAM, RadarNTB.com – Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) sukses mengukuhkan posisinya di kancah internasional dengan menjadi tuan rumah forum bergengsi kerja sama energi terbarukan. Bertempat di Prime Park Hotel Mataram, Selasa (19/5/2026), forum berskala global ini mempertemukan para delegasi lintas benua, mulai dari Indonesia, Madagaskar, Nepal, Kenya, hingga Jerman.

Pertemuan bertajuk Kerja Sama Selatan-Selatan dan Triangular (KSST) ini fokus membahas penguatan kolaborasi transisi energi bersih yang berkeadilan (just energy transition). Isu ini sangat krusial, khususnya bagi negara-negara berkembang dan wilayah kepulauan yang kini tengah berjuang menghadapi tantangan akses energi serta dampak nyata perubahan iklim.

Hadir mewakili Penjabat Gubernur NTB, Kepala Dinas Komunikasi, Informatika, dan Statistik (Kominfotik) NTB, Dr. H. Ahsanul Khalik, menyampaikan apresiasi mendalam atas kepercayaan dunia internasional memilih Lombok sebagai pusat diskusi strategis ini.

“Atas nama Pemerintah Provinsi dan seluruh masyarakat NTB, kami mengucapkan selamat datang kepada seluruh delegasi di Pulau Lombok. Daerah ini terus tumbuh menjadi wilayah yang inklusif, hijau, dan berkelanjutan,” ujar pria yang akrab disapa Aka tersebut.

Forum internasional ini juga dihadiri oleh perwakilan Kementerian ESDM RI, Pemerintah Republik Federal Jerman, GIZ, Kementerian Luar Negeri RI, Bappenas, kalangan akademisi, serta para pelaku industri energi terbarukan global.

Dalam pidato Gubernur yang dibacakannya, Aka menegaskan bahwa beralih ke energi bersih bukan lagi sekadar opsi atau tren, melainkan kebutuhan mendesak di tengah kompleksnya krisis iklim dan tekanan ekonomi dunia.

Namun, ia menggarisbawahi satu poin penting: transisi menuju energi hijau tidak boleh hanya fokus pada pembangunan teknologi mutakhir dan meraup investasi besar semata.

“Prosesnya harus dijalankan secara adil dan inklusif. Jangan sampai transisi ini meninggalkan masyarakat kecil, wilayah terpencil, atau kelompok rentan. Mereka semua harus mendapatkan akses energi yang adil dan merata,” tegas Aka.

Bukan tanpa alasan NTB dipilih menjadi lokasi forum ini. Bumi Gora dinilai memiliki “harta karun” energi baru terbarukan (EBT) yang sangat melimpah, di antaranya:

  • Energi Surya (Matahari): Intensitas sinar matahari yang tinggi sepanjang tahun menjadikannya modal utama pusat energi surya nasional.

  • Energi Panas Bumi (Geothermal).

  • Bioenergi & Mikrohidro.

  • Energi Kelautan (Arus & Gelombang Laut).

Mengingat wilayah NTB terdiri dari banyak pulau kecil (gili) dan kawasan terpencil, pengembangan energi berbasis komunitas seperti renewable energy minigrids (jaringan listrik mini berbasis EBT) dinilai menjadi solusi paling relevan.

“Bagi kami, energi bukan sekadar soal listrik dan infrastruktur fisik. Ini adalah tentang meningkatkan kualitas hidup, pendidikan, kesehatan, membuka kesempatan ekonomi, dan menjamin masa depan generasi mendatang,” tambahnya.

Di akhir sambutannya, Aka menegaskan bahwa tidak ada satu negara pun yang mampu berdiri sendiri menghadapi krisis iklim global. Oleh sebab itu, Pemprov NTB membuka pintu selebar-lebarnya bagi investasi hijau, transfer teknologi ramah lingkungan, dan kemitraan global.

“NTB ingin menjadi bagian penting dalam peta pengembangan energi bersih di kawasan Asia dan negara berkembang,” pungkasnya optimistis.

Menutup rangkaian agenda formal, Pemprov NTB juga mengajak seluruh delegasi internasional untuk mengeksplorasi keindahan alam Lombok-Sumbawa serta kekayaan budayanya, sebagai langkah mempererat diplomasi dan persahabatan antarbangsa.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *