MATARAM, radarntb.com – Kementerian Agama (Kemenag) Nusa Tenggara Barat (NTB) lege seluruh jemaah haji sebanyak 4.499 telah tuntas diberangkatkan, menandai berakhirnya fase keberangkatan haji 1446 H/2025 dari Embarkasi Lombok.
Keberangkatan ratusan JCH dari Lombok Barat, Sumbawa, dan Dompu yang tergabung dalam Kelompok Terbang (Kloter) 12 pada Sabtu dini hari (17/5/2025) pukul 01.10 WITA, menjadi penanda keberhasilan pelayanan haji di NTB.
Kepala Kanwil Kemenag NTB, H. Zamroni Aziz, menyatakan rasa syukurnya atas dukungan dan koordinasi semua pihak terkait yang telah bersinergi demi kelancaran keberangkatan seluruh JCH.
“Kami mengapresiasi semua pihak yang telah bersama-sama, saling bahu membahu dengan Kanwil Kemenag NTB, bersinergi dan saling mendukung untuk keberangkatan jamaah kita,” terangnya saat temu media di UPT Asrama Haji Embarkasi Lombok, Jumat (16/5).
Meskipun fase keberangkatan telah usai, Zamroni menegaskan bahwa tugas Kanwil Kemenag NTB tidak berhenti. Pihaknya akan terus menjalin komunikasi dengan seluruh petugas haji di Arab Saudi untuk memastikan kondisi JCH selama pelaksanaan ibadah, demi kenyamanan dan keamanan mereka.
Zamroni mengingatkan seluruh petugas haji untuk aktif dan intens menjalankan kewajibannya. Ia menegaskan bahwa setiap keluhan atau protes dari jemaah adalah risiko yang harus dihadapi. Petugas kloter diminta untuk maksimal berkomunikasi dengan sektor terkait dan PPIH Arab Saudi agar setiap kendala di lapangan dapat terselesaikan dengan baik.
“Kita sama-sama berdoa, agar pelaksanaan ibadah haji tahun ini lancar dan jamaah asal NTB mendapat predikat haji mabrur dan hajah mabrurah,” tandasnya.
Kepala Bidang Penyelenggaraan Haji dan Umrah (PHU) Kanwil Kemenag NTB, H. Muhammad Amin, mengingatkan jemaah agar tetap fokus pada ibadah dan memperhatikan waktu di Tanah Suci. Penggunaan telepon genggam diharapkan diminimalisir, terutama saat beribadah, demi kekhusyukan dan pemanfaatan waktu untuk berdoa serta berzikir.
“Ini adalah kesempatan yang berharga, kita manfaatkan untuk beribadah mantap kepada Allah SWT,” terangnya.
Amin juga mengajak jemaah untuk aktif berkomunikasi dengan petugas haji jika memerlukan bantuan. “Mereka hadir untuk membantu dan memastikan kenyamanan selama perjalanan ibadah, dan mudah-mudahan seluruh jamaah bisa menunaikan ibadah haji dengan lancar dan penuh berkah,” tambahnya.
Ketua Kerja Tim 4 Balai Kekarantinaan Kesehatan (BKK) Mataram, dr. Ferry Wardhana, memaparkan data kesehatan JCH asal NTB. Dari total 4.499 JCH, sebanyak 409 jemaah menjalani observasi lebih lanjut di Poliklinik BKK Mataram di UPT Asrama Haji Embarkasi Lombok, terdiri dari 162 laki-laki dan 247 perempuan. Mayoritas jemaah yang diobservasi berusia di atas 60 tahun (262 orang). Penyakit terbanyak yang ditemukan meliputi mual muntah, gangguan pernapasan, diabetes, dan hipertensi.
Dari hasil pemeriksaan, 16 jemaah dirujuk ke rumah sakit; empat ke RSJ Mutiara Sukma dan 12 ke RSUD NTB. Tragisnya, dua jemaah meninggal dunia di RSUD NTB, dan lima jemaah gagal berangkat tahun ini serta diganti dengan jemaah cadangan. Lima jemaah yang gagal berangkat terdiri dari dua penderita TBC, satu hamil, dan dua lainnya mengalami infeksi paru berat. Keberangkatan mereka direncanakan kembali tahun depan.
Kondisi kesehatan jemaah di Arab Saudi juga terus dipantau. Sebelumnya, seorang jemaah meninggal dunia karena TBC. Saat ini, tujuh jemaah sedang menjalani perawatan intensif: lima orang dirawat di RS Mekkah (dua sakit jantung, tiga paru-paru) dan dua orang di Madinah (paru-paru dan demensia).
Dr. Ferry menjelaskan bahwa cuaca di Arab Saudi saat ini sedang memasuki puncak musim panas, dengan suhu siang hari mencapai 40-42 derajat Celcius. Cuaca ekstrem ini memengaruhi kondisi kesehatan jemaah, khususnya lansia, menyebabkan batuk dan dehidrasi karena jarang minum. Pihaknya telah meminta petugas kesehatan untuk terus berkoordinasi dan memantau daftar penyakit yang mendominasi serta nama-nama jemaah berisiko tinggi.













