Internet Murah 100 Mbps dan Realita di Lapangan
Sekilas, internet murah 100 Mbps terdengar seperti solusi hidup alebih cepat, lebih terjangkau, dan cocok untuk semua kebutuhan digital. Tapi masalahnya, internet murah itu tidak otomatis berarti internet berkualitas.
Kita semua tahu, tantangan terbesar bukan tarifnya, tapi apakah infrastrukturnya siap. Di banyak daerah, jaringan fiber belum merata, menara BTS tidak stabil, dan operator butuh biaya besar untuk memperluas layanan. Harga boleh turun, tapi kualitas tidak boleh ikut tenggelam.
APJII: Konsistensi Lebih Penting dari Janji
APJII sudah mengingatkan bahwa menjaga konsistensi kecepatan jauh lebih sulit daripada membuat harganya murah. Pengalaman kita sehari-hari juga sering membuktikan bahwa angka di brosur tidak selalu sama dengan realita di rumah.
Wajar kalau publik khawatir. Kalau harga dipaksa turun terlalu jauh, operator bisa memampatkan kapasitas. Akibatnya? Kita dapat “100 Mbps versi hemat” cepat saat pagi, lemot saat jam sibuk.
Narasi Politik dan Harapan Publik
Di sisi lain, pemerintah sedang membangun narasi bahwa negara hadir lewat layanan digital yang terjangkau. Ini bagian dari komunikasi politik yang sah. Tapi janji publik butuh bukti publik. Tanpa roadmap jelas dan transparansi biaya, masyarakat mudah merasa program ini hanya wacana menjelang momentum politik.
Internet murah itu penting, tapi kepastian kualitas jauh lebih menentukan.
Murah Boleh, Asal Tidak Murahan
Internet cepat dengan harga terjangkau jelas dibutuhkan. Tapi kalau program internet murah 100 Mbps ingin berhasil, maka infrastrukturnya harus siap, operator harus didukung, dan publik harus diberi informasi yang jujur dan transparan.
Karena memurahkan internet itu mudah dalam poster. Yang sulit adalah memastikan kita tidak “membayar sisanya” dengan kualitas yang turun.

Nama: Muhammad Ikrom
Alamat: Dusun Senteluk, Kecamatan Batulayar, Kabupaten Lombok Barat
Kampus: UIN Mataram
Fakultas : Dakwah
Jurusan: Komunikasi dan Penyiaran Islam
Semester: 3













