Belajar Matematika melalui Permainan ; Mungkinkah ?

  • Bagikan

Penulis Munzir, Guru SD Negeri 2 Beleka, Kabupaten Lombok Barat

Pelajaran Matematika seringkali menjadi kendala yang menakutkan bagi sebagian besar siswa. Matematika identik dengan dihapal dan mesti menghitung. Siswa pun malas belajar Matematika, benar bukan ?. Menghapal dan hitungan seakan-akan menjadi keharusan, padahal belajar Matematika sepenuhnya tidaklah demikian.

Memang, belajar Matematika mesti ada menghitung. Namun saat belajar, mungkinkah guru menyampiakan materi dengan menyenangkan, menggembirakan dan membahagian ; sambal bermain-main ?, pastilah mungkin dan bisa dilakukan. Karena, anak cenderung suka bermain sambil belajar dan atau belajar sambal bermain. Belajar disinergikan dengan permainan dan bermain seolah-olah anak-anak tidak menyadari bahwa mereka sedang belajar menghafal dan berhitung dalam Pelajaran Matematika.

Mengajarkan Matematikan melalui Permainan Tradisional

Kondisi anak yang lebih familiar dengan lingkungan bermain menunjukkan kenyataan bahwa, bermain sambil belajar mempermudah guru menyampaikan materi pelajaran. Suasana bermain membawa anak ke dalam situasi positif, menyenangkan, dan diharapkan memudahkan siswa menerima materi. Menggunakan permainan tradisional sebagai sarana penyampaian materi Matematika yang membuat materi terlihat menyenangkan merupakan kolaborasi antara ilmu matematika dan kearifan lokal. Siswa memelajari Matematika sekaligus melestarikan budaya daerah. Unsur-unsur budaya daerah dikembangkan untuk mendukung proses pengembangan interaksi belajar mengajar di dalam kelas.

Dengan permainan tradisional, anak akan lebih mudah menyerap materi yang sulit. Ingatan anak akan lebih membekas dengan penyampaian melalui metode permainan. Aktivitas anak dalam permainan akan lebih bervariasi, lepas, dan tidak tertekan. Kondisi ini mempermudah anak belajar tanpa melalui paksaan yang seringkali dibumbui dengan tekanan yang membuat anak merasa tidak nyaman. Meskipun demikian, dalam bermain, anak dapat lepas kendali tanpa mengindahkan materi apabila guru tidak mengantisipasi dengan cepat jika ada anak yang keluar dari topik pelajaran. Anak-anak hiperaktif punya kemungkinan lebih besar untuk lepas dari kontrol permainan dengan mengenyampingkan materi pelajaran.

Melalui eksplorasi penggunaan permainan tradisional dalam pembelajaran matematika diharapkan ada perubahan sudut pandang siswa akan Pelajaran Matematika yang awalnya sulit dan menakutkan menjadi lebih mudah serta menyenangkan. Siswa mempunyai peluang besar untuk menjadi dirinya sendiri tanpa kekangan dari situasi kelas yang monoton. Imbas dari pembelajaran yang menyenangkan yaitu peningkatan motivasi belajar serta perolehan nilai yang memenuhi harapan. Selain itu, dampak pengiring dari pembelajaran berbantuan permainan tradisional adalah adanya garansi terjaganya budaya tradisional yang belakangan ini dirasakan mulai pudar tanpa ada keinginan untuk melestarikan.

Adapun permainan yang dapat dijadikan media Pembelajaran Matematika diantaranya pertama : Engklek (Tengklak), nama lain permainan Engklek adalah sunda manda atau patahan (Jawa). Permainan ini diberi nama engklek karena sepanjang permainan, para pemain harus berjalan dengan menggunakan satu kaki. Berjalan dengan satu kaki dalam Bahasa Jawa berarti engklek/ingkling. Permainan ini sudah masuk ke Indonesia sejak masa penjajahan Belanda. Bahkan ada pendapat yang menyebutkan bahwa nama sunda manda sendiri berasal dari Bahasa Belanda “Zondag Mandaag”.

Penerapan permainan tradisional engklek sebagai upaya untuk memudahkan siswa dalam mengenal bentuk/model bangun datar, menentukan keliling dan luas daerah gabungan berbagai bangun datar serta menentukan skala dari suatu denah. Nilai-nilai karakter yang terkandung dalam permainan engklek (tengklak) adalah ketekunan, kedisiplinan, fokus dan pantang menyerah, integritas, tanggung jawab dan budaya antri.

Kedua, Gobak Sodor (Selodor), adalah permainan tradisional yang biasa dimainkan anaka-anak di Indonesia. Permainan ini memiliki beberapa nama, antara lain: Galah Panjang (Kepulauan Riau), Cak Bur/Main Belon (Riau), Asing (Makasar), Margala (Sumatera Utara), Galasin/Galah Asin (Jawa Barat), dan Selodor (Lombok).

Penerapan permainan tradisional selodor sebagai upaya untuk memudahkan siswa dalam mengingat dan mengenal titik, garis, ruas garis dan hubungan antar garis. Nilai-nilai karakter yang terkandung dalam permainan Gobak Sodor (Selodor) adalah Kerjasama, tanggung jawab, kritis, kreatif dan konsentrasi.

Ketiga, Tac Tic Toe adalah model permainan kompetisi satu lawan satu yang menggunakan petak-petak permainan yang biasanya dimainkan dengan indikator pemenangnya adalah pemain yang dapat menguasai tiga petak berurutan baik secara horisontal, vertikal maupun diagonal. Pujiati (2004: 48). Sebagai gambaran kami tuangkan dalam contoh sebagai berikut:

Contoh kondisi akhir sebuah permainan tac tic toe setelah melalui aturan yang ditetapkan

Aspek yang diharapkan dapat dioptimalkan adalah untuk meningkatkan keterampilan konsep perkalian sehingga sampai hafal fakta dasar perkalian karena dengan suasana bermain sambil belajar akan membawa dampak positif baik dari segi pembinaan karakter siswa maupun menstimulus pengembangan kognisi pada siswa, sehingga kualitas hafalan siswa tentang fakta dasar perkalian dapat meningkat karena kompetensi tersebut sering menjadi kompetensi prasyarat untuk mencapai kompetensi lainnya.

Media ini juga sangat memungkinkan digunakan oleh siswa di luar kelas dan di luar jam pembelajaran, bahkan juga dapat menjadi salah satu alternatif permainan di rumah bersama teman, keluarga atau kerabat lainnya maupun orang tua. Media ini dilengkapi dengan aturan permainan. Nilai-nilai karakter yang terkandung dalam permainan tac tic toe fakta dasar perkalian adalah kejujuran, tanggung jawab, integritas dan konsentrasi.

Kreativitas Guru dalam Belajar

Berdasarkan penjelasan tersebut diatas, dapat diketahui bahwa permainan dapat dijadikan media pembelajaran Matematika, sehingga kesan matematika yang sulit dan menakutkan dapat berubah menjadi mudah dan menyenangkan. Disamping itu juga permainan-permainan tersebut memuat nilai-nilai karakter yang saat ini sudah mulai hilang akibat pengaruh negatif globalisasi.

Singkatnya, setelah kita mengetahui ternyata permainan dapat dijadikan media pembelajaran matematika dan juga memuat nilai-nilai karakter, jangan sampai diterapkan hanya sekedar untuk Kesehatan fisik dan psikomotarik saja. Permainan yang sejatinya begitu bermanfaat, akan sangat rugi kalau dilakukan hanya sekedar untuk mengisi waktu luang saja. Jangan lagi guru memandang permainan sebagai barang usang yang tidak relevan dengan perkembangan zaman. Harapannya, melalui permainan-permainan tersebut siswa tumbuh menjadi generasi yang bahagia hatinya, sehat jiwa dan raganya, berkarakter dan memiliki kompetensi 4C (Communication, Collaboration, Critical Thinking and Creativity) sebagai keterampilan yang dibutuhkan di era revolusi industry 4.0 melalui kemampuan guru mengoptimalkan ragam media dan kesempatan untuk belajar anak, baik di dalam kelas maupun di luar kelas. Semoga bermanfaat.
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.